Friday, April 17, 2009

Thalhah, Sebuah Kenangan Atas Cinta

Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Di perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rasulullah dan tujuh puluh luka berlomba menguras darahnya, Thalhah ibn ‘Ubaidillah berdoa sambil menggigit bibir. “Rabbii”, begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhaa. Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau ridha.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.

“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi”, begitu Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Thalhah”. Dan Thalhah, yang jalannya terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di atas darah yang mengering merah.

Tetapi tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Begitulah, tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Sesudah wafatnya ‘Utsman ibn ‘Affan di tangan para pemberontak, fitnah besar itu terjadilah. Thalhah bersama Zubair ibn Al ‘Awwam dan ‘Aisyah memerangi ‘Ali ibn Abi Thalib untuk menuntut bela kematian ‘Utsman, meminta ditegakkannya keadilan atas para pembunuh ‘Utsman yang sebagiannya kini menjadi penyokong utama kekhalifahan ‘Ali ibn Abi Thalib. Keadaan sangat tidak mudah bagi ‘Ali. Pilihan-pilihannya terbatas. Thalhah tahu itu. Tapi dia sendiri juga kesulitan bersikap lain di tengah kedua kubu.

Satu hari, dalam perang yang dikenal sebagai Waq’ah Jamal itu, ‘Ali mengirim utusan, memohon agar bisa berjumpa dengan kedua sahabat yang dicintainya; Thalhah dan Az Zubair. Mereka berdua datang. Mereka bertiga berpelukan. Tak terasa air mata meleleh. Kenangan-kenangan ketika ketiganya bersipadu di sisi Rasulullah berkelebatan dengan indah. Namun kini terasa menyesakkan. Menyakitkan. Dulu pedang mereka seayun, langkah mereka sebaris, tangannya bergandengan. Kini mereka harus berhadapan saling menghunus pedang, dengan mata saling menatap tajam, tapi hati tersembilu.

Dan seolah tak ada jalan selain itu.

Sesudah menyeka air mata, ‘Ali menggenggam jemari Thalhah dan menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, ‘Ali mencoba menyusun kata. “Ingatkah engkau hai Thalhah, mengapa Allah turunkan ayat tentang hijab bagi isteri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”

Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

‘Ali menepuk bahu Thalhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, ‘Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah.”

‘Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Thalhah menubruk ‘Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah ‘Ali, Thalhah, bersama Az Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan ‘Ali ibn Abi Thalib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

-Salim A. Fillah-

Tuesday, December 23, 2008

indahnya fitrah C.I.N.T.A

Ihsan saudari Najibah; http://syawqahwardah.blogspot.com/




Atas tautan ukhwah,
Juga atas satu dasar yang kukuh,
Nan Aqidah Muslim,
Aku melayangkan warkah ini buatmu teman...

Wahai temanku an-nisa',
Engkau sedia maklum,
Engkaulah hiasan dunia,
Lantaran fitrah itu,
Engkau seringkali menjadi fitnah lelaki itu,
Dan sememangnya itu bukan kesalahanmu,
Tetapi itulah hakikat kejadianmu...

Wahai temanku ar-rijal,
Aku mengetahui kesepian hati seorang lelaki,
Yang seringkali mengimpikan seorang teman di sisi,
Dan tentulah temanmu yang diimpi,
Seorang serikandi...

Wahai temanku an-nisa',
Aku mengetahui halusnya perasaanmu,
Engkau ingin disayangi,
Ingin dimanjai,
Engkau juga ingin menyayangi
juga ingin memanjai...
Dan aku juga tahu,
Temanmu ar-rijal juga begitu...

Tetapi temanku an-nisa',
Ketahuilah engkau,
Bercinta itu fitrah,
Tetapi janganlah engkau cemarkannya dengan fitnah...

Kalau benar engkau mengasihinya,
Kasihinyalah kerana Pencipta Fitrah,
Dan jika engkau benar mengasihinya,
KeranaNya,
Engkau tak kan bisa,
Melunakkan soutul engkau,
Engkau tidak kan bisa,
Melemparkan panahan menggodamu,
Kerana engkau tahu,
Itu bisa menggoyahkan iman seorang ar-rijal!
Dan engkau mengetahui,
Dia punya 9 akal, dan 1 nafsu,
Namun nafsu itu sentiasa beraja,
Dan engkau tidakkan bisa menjadikan sang nafsu itu,
Nafsu raja yang menggila!
Kerana engkau tahu sahabatku an-nisa',
Dia kan terjerumus ke dlm api yg membara
Andai dia menjadi hamba raja nafsu yang gila...
Adakah benar engkau mengasihinya keranaNya?

Wahai temanku ar-rijal,
Andai engkau mencintainya,
Cintailah ia keranaNya,
Letakkanlah Ia melebihi cintamu kepada dia,

Andai engkau mengasihinya keranaNya,
Engkau tidakkan bisa,
Mengajaknya bermukah di taman sepi,
Kerana engkau tahu,
Dia punya 9 nafsu, 1 akal,
Tetapi manakan mampu 1 akal menguasai 9 nafsu?
Andai engkau mengasihinya keranaNya,
Engkau tidakkan bisa menyentuhnya,
Walaupun yang ringan-ringan,
Kerana engkau tahu,
Itu sudah MENGHAMPIRI ZINA!
Dan engkau tahu bukan?
Zina tempatnya di api yang menjunam?
Apakah engkau benar mengasihinya,
Andai kau relakan dia terjun ke NERAKANYA?

Sahabatku an-nisa',
Sahabatku ar-rijal,
Aku mengasihimu LILLAH,
Lantaran itu,
Dengarlah sedikit pesan ikhlas ku LILLAH,
Manusia mana yang mampu hidup tanpa cinta?
Bercinta tak salah,
Tetapi letakkan cintamu kepadaNya yang hakiki,
Dan engkau kan merasa cinta manusia...
Sedikit cuma...

Andai Dia yang engkau dahului,
Engkau takkan gelisah,
Andai dia tidak mengirim sebarang sms,
Andai suaranya tidak didengar walau teknologi di depan mata,
Engkau tidakkan rindu,
Andai sehari tidak besua,
Engkau tidakkan kecewa andai dia terlupa mengatakan I love you,
Kerana engkau percaya...
DIA yang terbaik...
Lantaran DIA yang terbaik,
DIA akan menentukan yang terbaik untukmu,
Dan andai dia yang terbaik untukmu,
DIA akan satukan juga hatimu dengan hatinya...
Dan itulah sahaja melalui PERNIKAHAN

Dan itulah yang terbaik buat kalian,
Kalau ada jodoh tak ke mana...
Yakinlah!
Apakah benar engkau meyakini takdirNya?


Maafkan aku teman,
Bicaraku penuh ketegasan,
Aku tidak membencimu,
Tetapi aku membenci munkar itu,
Dan kerana aku takutkan api yang menjunam itu,
Aku menegur yang mana mampu,
Kerana aku takut,
Andai aku tidak menegurmu,
Kita kan sama-sama meredah lautan api...
Yang terlalu pedih, yang terlalu seksa, yang terlalu AZAB!!!
Nauzubillahi min zalik...

Sama-samalah teman,
Pagarilah imanmu,
Agar si iman itu tidak terlepas,
Cintailah IA,
Kerana DIAlah penjaga iman kita...
Yakinlah dengan IA...
Serahkan segalanya pada IA...
Kerana DIA tahu yang terbaik,
Sedangkan kita tidak...
ALLAHU a'lam...

Akhirul kalam...
Letakkan si DIA dalam hatimu,
Engkau akan merinduiNYA,
Andai harimu tiada ingatan kepadaNYA,
Engkau akan gelisah andai DIA,
Tidak mendengar rintihanMu,
Engkau kan rindu,
Andai DIA tidak memandangmu,
Engkau kan tak keruan andai,
Doamu ditolak...
Dan itulah cinta hakiki...
Kerna engkau yakin,
Di sana adanya sebuah,
Pertemuan di taman Syurga yang Indah...

Thursday, December 18, 2008

Wartawan menghina Bush, apa Ulama buat??

Hasil nukilan Saudara Ibam (http://khilafaharmy.wordpress.com/2008/12/17/wartawan-menghina-bush-apa-ulama-buat/)

Posted by khilafaharmy in
Analisis.
Tags: analisis lawatan Bush, Bush, dilempar, kasut, Muntader, Sheikh al-Azhar, Tantawi, ulama memalukan, wartawan, Zaidi
trackback

Ahad, 14 Disember, Baghdad

Nampaknya, seluruh dunia mengetahui insiden penghinaan terhadap George Bush yang hampir menjadi sasaran lemparan kasut. Beritanya boleh didapati di banyak tempat, cuma ana ingin membincangkan isu yang lebih utama. Sebelum itu, sedikit info mengenai kes Bush dan kasut ini, mungkin ada yang masih belum membacanya lagi.

Pada lawatan Bush ke Iraq(dikatakan lawatan terakhirnya ke sana), seorang wartawan dari syarikat al-Baghdadia, Muntader al-Zaidi melemparkan kasutnya yang pertama semasa sidang media apabila Bush berucap “this is his farewell gift to the Iraqi people” sambil berteriak

"This is a gift from the Iraqis; this is the farewell kiss, you dog"

Kemudian membaling sebelah lagi kasutnya dengan teriakan

"This is from the widows, the orphans and those who were killed in Iraq."

Walaupun kasutnya tidak mengenai Bush, tetapi kedua-duanya mengenai bendera Amerika. Dilaporkan bahawa bagi tradisi Arab, kasut di kepala merupakan sesuatu yang menghinakan, seumpama memijak kepala seseorang.

Muntader disambut sebagai wira atas tindakannya yang berani itu. Walaubagaimanapun, kini dia masih lagi di dalam tahanan dan dilaporkan dibelasah teruk.

Agenda tersembunyi

Pada asalnya, lawatan Bush ke Baghdad adalah lawatan yang tidak diumum (unannounced visit). Lawatan ini sengaja tidak diumum atas sebab-sebab tertentu. Tapi kini, seluruh dunia telah mengetahui tentang lawatan tersebut, yang mana destinasi seterusnya adalah ke Afganistan.

Walaubagaimanpun, yang menjadi highlight adalah tregedi Bush dan kasut. Sebenarnya, ini merupakan lawatannya yang terakhir ke negara-negara yang dijajah Amerika(Iraq dan Afganistan), yang tujuannya adalah untuk memberi peringatan kepada kerajaan Iraq dan Afganistan bahawa kepentingan Amerika di kedua-dua negara itu masih perlu dijaga, walaupun dia akan diganti Obama. Selain itu, Bush turut mengingatkan bahawa bahawa bantuan ketenteraan akan terus ditingkatkan oleh Pemerintahan Obama tahun depan. Secara mudah, kehadirannya adalah untuk memastikan boneka-bonekanya tetap setia kepada tuan, walaupun selepas ini, tuan baru akan ganti. Bush terus dalam penipuannya dengan menyifatkan kehadiran tentera Amerika ke Iraq sebagai

"One of the greatest successes in the history of the United States military."

walaupun seluruh dunia tahu akan kegagalan Amerika di Iraq dan Afganistan.

Lain Pula Ceritanya

Sungguh malang sekali bagi kaum muslimin, jika wartawan mempunyai keberanian tetapi ulama tidak langsung mempunyai maruah. Dalam satu Seminar Dialog Antara Agama pada Julai lalu dimana Sheikh al-Azhar, Sheikh Tantawi yang berjabat mesra dengan Presiden Israel Simon Perez. Tindakan “Ulama” itu telah mengejutkan kaum Muslimin, terutamanya di Mesir. Ingatlah bahawa Allah telah menurunkan ayat

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah parti Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya parti Allah itulah parti yang berjaya.
(TQ al-Mujadilah 58:22)

Sebab turun(asbabun nuzul) ayat itu dalam satu riwayat seperti berikut:

Bahwa pada suatu hari Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) mencaci maki Rasulullah saw. Lalu Abu Bakar memukulnya dengan keras sehingga dia jatuh terpelanting. Lalu berita itu sampai kepada Rasulullah saw. maka Rasulullah saw. bertanya, “Apakah benar engkau telah melakukan hal itu, wahai Abu bakar?” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah seandainya di tanganku ada pedang, niscaya dia akan kupancung dengan pedang itu”.
(HR Ibnu Munzir)1

Turunnya ayat Quran tentang kes itu menandakan pembenaran(persetujuan) Allah terhadap perbuatan Abu Bakar. Sepatutnya Ulama Islam lebih mengetahui akan hal ini. Sikap ini bukanlah sikap sebagai seorang yang menyertai parti(hizb) Allah. Lebih dibanggakan sikap Muntader yang layak digolongkan dalam parti Allah dan berjaya. Sungguh mengecewakan kerana menurut Imam Ghazali,

“Rosaknya rakyat, karena rosaknya para penguasanya. Rosaknya para penguasa, karena rosaknya para ulama”

Umat Islam kini berada di bawah penguasa yang mementingkan kepentingan penjajah Amerika dan Ulama yang berkasih dengan Israel. Mana tak rakyat menjadi mangsa. Benarlah sabda Rasulullah

“Sudah hampir (tiba) suatu masa di mana tidak ada yang tinggal pada Islam itu kecuali namanya sahaja dan tidak tinggal pada al-Quran itu kecuali tulisannya sahaja. Masjid-masjid mereka tersergam indah, namun kosong/roboh dari petunjuk. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kulit langit. Dari mereka berpunca fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali” (HR Baihaqi)

Sumber Rujukan:

http://www.guardian.co.uk/world/video/2008/dec/15/iraq-georgebush
http://www.iht.com/articles/2008/12/15/africa/15prexy.php
http://www.turkishweekly.net/news.php?id=62206
http://baghdadbureau.blogs.nytimes.com/2008/12/15/brother-is-proud-of-shoe-tossing-iraqi-journalist/?src=tp&apage=2
http://www.latimes.com/news/nationworld/world/la-fg-bush15-2008dec15,0,3110164.story
http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=14142335
http://www.syabab.com/index.php?option=com_content&view=article&id=366:dialog-kemungkaran&catid=27:akidah-&Itemid=61

1Diriwayatkan oleh Ibnu Munzir dari Ibnu Juraji

[12:o3]